Mailbox

phone

 “Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Setelah nada berikut, silakan rekam pesan Anda.”

BIIIP.

“Hai.

Emmmmm.

Aku- aku mau ngomong sesuatu. Banyak sih, bukan cuma sesuatu. Berarti banyak sesuatu? Eh tapi itu bukan bahasa Indonesia yang baik dan benar ya? Aku mau ngomongin banyak hal. Ya. Gitu maksudnya. Kamu dengerin ya? Soalnya ini penting. Penting banget. Setidaknya buat aku. Moga aja buat kamu juga nanti jadi penting. Nggg, pokoknya dengerin dulu aja ya.

Ehm.

Dari mana ya mulainya?

Mulai dari- oh, kita mulai dari waktu aku pertama ketemu kamu. Lima bulan yang lalu. Februari. Aku nggak pernah lupa hari, tanggal, dan bahkan jamnya. Rabu, 4 Februari, tepat jam 3 sore lebih enam belas menit. Kamu jalan di hadapan aku. Kamu pake atasan warna ungu muda, rok selutut warna hitam, dan sepatu boot beledru. Saat itu hujan; kamu bawa payung kecil warna putih yang ada gambar pandanya. Kamu juga pake syal rajut warna warni—mungkin biar kamu ga kedinginan ya?  Rambut kamu waktu itu tergerai sebahu. Iya, waktu rambut kamu masih sebahu.

Kamu berdiri tepat di seberang jalan tempat aku berada waktu itu dan kamu langsung menarik perhatianku. Kamu lagi nungguin taksi yang lamaaa banget datangnya. Kamu berkali-kali mengecek jam tangan kamu. Ekspresi kamu gelisah banget, menandakan kalau kamu sepertinya telat datang ke suatu acara atau suatu janji. Kamu tahu nggak? Kalo lagi gelisah kamu lucu deh mukanya. Alis kamu berkerut gitu, terus mulutnya komat kamit nggak jelas. Aku hanya memperhatikan sambil senyam-senyum.

Sebenernya aku pengen banget ngehampirin kamu, tapi nggak berani. Lagian taksinya juga keburu datang.

Aku mengawasi kamu pergi naik taksi itu. Kamu tahu waktu itu aku mikir apa? Aku berdoa untuk diberi kesempatan melihat kamu lagi.

Seminggu setelahnya, doa aku terkabul. Kamu datang lagi tepat ketika aku kebetulan berada di situ. Tapi kali ini kamu berjalan tepat ke dalam kafe di seberang jalan. Dan kali ini, aku tahu kamu lagi nggak nungguin orang. Kamu sedang ingin sendiri.

Kamu ngeluarin laptop kamu dan mesen kopi satu cangkir. Oh, sama puding. Puding warna hijau. Mungkin puding pandan. Hahaha. Nggak, bercanda. Aku tahu kok kamu suka puding green tea. Kafe itu kan beken karena puding green tea-nya.

Rambut kamu, waktu itu, diikat agak tinggi. Aku suka gaya rambut kamu yang begitu, soalnya aku jadi bisa ngeliat tengkuk kamu. Keliatannya segar. Bersih.

Lama aku merhatiin kamu, dan lama kamu juga nggak mengalihkan pandangan dari layar laptop. Aku menebak warna mata kamu agak kecoklatan. Memang ga kelihatan jelas dari tempat aku saat itu, tapi entah kenapa aku yakin. Beberapa kali kamu mengigit bibir saat menatap layar laptop. Sepertinya itulah kebiasaan kamu saat sedang berpikir keras. Kebiasaan yang membuat aku betah terus-terusan melihat kamu.

Saat itu harinya cerah. Nggak dingin, nggak panas. Udaranya lagi enak. Aku bisa melihat poni kamu melambai sedikit tertiup angin yang masuk dari sela jendela kafe. Aku ingin, ingin sekali membiarkan tanganku untuk membantu menyibakkannya. Aku ingin sekali pergi ke sana, duduk di depan kamu, terus memulai percakapan sama kamu. Tentang apa aja. Mungkin aku bakal buka obrolan kita dengan cara sok-sok minta tisu. (Iya tahu, emang norak banget) Dan nantinya aku bakal nanya jenis musik atau film apa yang kamu suka. Atau mungkin buku—itu juga kalo kamu suka baca buku. Apapun itu topiknya, yang penting orangnya kamu. Itu yang  bikin berarti.

Aku belum berani melakukannya. Masih, belum.

Akhirnya, aku yang pergi duluan. Aku memang ada perlu. Tapi sumpah, nggak rela banget rasanya ninggalin tempat itu. Ninggalin pemandangan seindah kamu.

Sejak hari itu, aku selalu melihat kamu kemanapun aku pergi. Kamu adalah kasir di toserba tempat aku membeli rokok. Kamu adalah penjual kue keliling menjajakan dagangannya di atas sepeda dekat komplek rumahku. Kamu menyanyikan lagu kesukaanku di radio. Kamu adalah setiap orang yang berpapasan denganku di jalan. Kamu adalah objek semua mimpiku setiap malam. Kamu menghuni otakku dan membangun rumah disana. Lalu kamu membersihkan tempat tinggalmu dari segala detail ide lain yang kamu rasa mengganggu. Jadi ya, hasilnya, aku kehilangan kemampuan untuk berfikir kecuali menyangkut kamu. Aku nggak menyalahkan kamu untuk itu. Nggak sama sekali. Aku justru bersyukur kamu, walaupun secara nggak sadar, telah bersedia menjadi inspirasiku. Dan kalau kamu belum tahu, kamu itu seorang motivator yang luar biasa lho. Kamu yang menyemangatiku untuk bisa sanggup menyelesaikan skripsi yang sudah dua tahun aku tunda untuk selesaikan hanya karena aku takut untuk menghadapi sidang akhir. Di telingaku kamu selalu membisikkan kata-kata penyemangat. Lucu sih. Aku kan belum pernah benar-benar mendengar suara kamu. Tapi bisa aku bayangkan seperti apa. Suara kamu  lantang tapi halus. Tegas tapi lembut. Kontradiktif, mungkin pendapat kamu. Tapi tidak juga; memangnya sesuatu tidak boleh tegas dan lembut pada saat yang bersamaan?

Itu bagaimana aku selalu membayangkan kamu.

Dan tahu nggak? Takdir memang aneh. Aku baru sadar setelah beberapa lama kalau kita naik bis jurusan yang sama setiap pagi. Aku mengutuk diri; kenapa tidak dari dulu aku diberi kesempatan untuk melihat kamu?

Tapi tidak apa-apa. Aku bersyukur tahu itu sebelum terlambat. Setiap hari aku naik di jam yang sama demi mencari kamu. Seringkali aku tidak seberuntung itu, tapi saat aku menemukanmu, hari itu selalu menjadi hari yang indah. Pernah kamu bahkan duduk hanya beda dua deretan di depanku. Pernah diagonal kiri di belakangku. Aku kadang susah mempercayai bahwa kita pernah sedekat itu dan aku masih saja tidak bisa menyapa kamu. Karena aku tahu itu tidak mungkin. Aku bukan bagian dari dunia kamu, dan tidak akan pernah menjadi salah satu darinya. Jadi aku sungguh menikmati apa yang bisa aku dapatkan, karena aku tahu persis ini yang terbaik. Dan aku merasa ini cukup. Serius. Aku juga tidak minta lebih. Kesempatan yang sekarang aku dapat untuk bisa tahu kamu ada sudah luar biasa.

Jadi begitulah. Semuanya sudah tumpah. Kamu mungkin akan bilang aku pengecut karena nggak berani mengatakan semuanya langsung dan malah memilih mailbox handphone sebagai media-nya. Nggak jantan banget, mungkin kamu akan bilang begitu. Tapi sejujurnya aku memang tidak tahu cara lain untuk bisa mengungkapkan semua ini sama kamu.

Aku bahkan tidak tahu nama kamu. Tapi aku tahu persis bahwa aku jatuh cinta sama kamu. Serasa sudah selamanya. Dan tidak akan ada habisnya.

Sekali lagi maaf aku harus pake cara ini. Aku janji aku akan langsung hapus nomor kamu. Aku cuma butuh kamu untuk mendengarkan ini.

Terima kasih ya. Aku tahu kamu akan selalu bahagia, seperti layaknya kamu membuat aku bahagia dengan adanya kamu dalam hidupku.”

BIP.

Dia memasukkan handphone-nya kembali ke dalam saku sebelum berdiri. Dari kejauhan terdengar seruan seorang gadis, “Oh, itu kali orangnya ya?” yang kemudian terburu-buru berlari menuju bangku di tengah taman itu dengan seorang pemuda mengikuti di belakangnya.

“Ya ampun, makasih banget ya Mas!” gadis itu menghampirinya dengan ekspresi luar biasa lega. Atasannya ungu muda, dan rambutnya diikat agak tinggi. Di tangannya tersampir payung berpola panda. Suaranya lantang tapi halus. “Makasih, makasih banget. Aku udah pasrah pas tahu hape aku ketinggalan di bis. Nggak  nyangka bisa ketemu lagi! Makasiiih banget ya Mas! Sayang, hape aku ketemu!”

Pemuda di belakang gadis itu menyalami pria bangku taman. “Makasih Mas. Semoga kebaikannya dibalas sama Tuhan.”

Pria bangku taman itu menelan ludah. Bibirnya terasa kaku.

“Sama-sama Mas,” ujarnya, membalas salaman si pemuda.

Gadis itu tersenyum manis sebelum menggandeng kekasihnya pergi dari sana.

“Batrenya habis, sayang. Kebayang banyak kali ya missed call sama SMS ke hape aku yang nggak kejawab. Kudu cek mailbox nih kayanya…”

Pria tadi hanya memandang mereka selama beberapa detik sebelum perlahan melangkah pergi, tidak tahu ke mana, asal dia bisa menjauh.

12 Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s