Soviet Merindu Mentari

(entry untuk Lomba Cerpen BWS tahun 2010)

 

—1945-1946

 

Aku tidak mungkin lupa hari itu. Rabu, 4 Juli, tahun 1945. Pemimpin kami Stalin baru rampung menandatangani Konferensi Yalta atas nama Soviet. Bulan Juli—setahuku seharusnya musim panas, ya? Tapi tidak di desaku. Borovlyanka, Siberia. Aku ingat berjalan diatas lapisan es yang menutupi tanah, ingat langitnya yang kelabu nyaris hitam, ingat bagaimana pandanganku seperti tertutupi selaput tipis karena salju yang enggan berhenti turun.

Aku mengenakan mantel ibuku. Punyaku sudah terlalu tipis. Dulu ibu selalu sering menjahitkan mantel untuk kami, anak-anaknya. Kakak perempuanku, Vanya, kawin dengan petani desa sebelah dan kami tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Anton adik laki-lakiku meninggal tiga musim dingin lalu. Dia memang terlahir ringkih, tidak bisa berhenti batuk, dan sangat pucat, sepucat salju. Malam itu aku mengawasinya tertidur—lama sebelum aku menyadari dia sudah tidak bernafas lagi. Ayahku? Dia seorang petani yang menolak untuk bekerja di pertanian kolektif. Aku baru enam tahun saat mereka, orang-orang berseragam yang bau busuk alkohol dan tembakau itu, mendobrak rumah kecil kami dan membawanya pergi. Aku pikir aku mendengar suara kembang api setelahnya, tapi ibu bilang itu bukan kembang api.

Jadi yang tertinggal hanya aku, ibuku, dan kakak laki-laki tiriku, Ivan, anak hasil perkawinan ayah dengan istri pertamanya. Ivan yang membiayai kami setelah ayah tidak ada.

Aku menata rambutku menjadi sanggul anggun yang terpilin dengan rapi di samping kepala. Ibuku sering bilang bahwa rambut merah perlu dirawat dengan hati-hati, kalau aku tidak mau kelihatan seperti Baba Yaga, makhluk halus mengerikan yang menghantui desa dan suka menculik anak-anak. Aku biasa menyisirnya setiap sebelum aku pergi tidur dan setelah bangun. Aku memutuskan untuk memberinya perhatian ekstra khusus untuk hari ini. Ternyata nanti terbukti bahwa usahaku tidak sia-sia.

Aku melangkah ke dalam aula balai desa, dalam hati merasa tidak seharusnya berada di sini. Umurku baru enam belas tapi aku malah mendatangi acara pertemuan anggota muda partai komunis. Tapi ibu dan Ivan bilang ini penting. Penting untuk keberlangsungan hidup kami, terutama.

Di sudut ruangan aku melihat Lena dan beberapa temanku yang lain. Lena melambai dan menyuruhku menghampirinya. Terlintas sedikit kesombongan di kepalaku bahwa tidak ada dari mereka yang terlihat secantik aku.

Bagian depan aula desa sudah dipasangi mimbar. Seorang pria berdiri tidak jauh dari situ, menatap beberapa lembar kertas di tangannya. Dia kelihatan tidak lebih dari delapan belas tahun, cukup tampan, dengan perawakan tegap. rambut hitam tersisir rapi ke pinggir, hidung lurus, alis tebal, dan kening yang tampak mengilat karena keringat. Dia pasti yang akan berpidato nanti. Tidak ada lagi orang di ruangan ini yang terlihat segugup dia. Mendadak dia mengangkat kepalanya ke arahku. Aku memberinya seulas senyum menenangkan. Dia membalas senyumku.

Tebakanku benar. Ternyata dia adalah seorang sekretaris untuk perkumpulan Komunis Muda, dan dia mewakili organisasinya untuk berpidato disitu. Tampaknya dia cukup berhasil mengatasi rasa gugupnya—kata-kata meluncur dari mulutnya dengan lancar dan penuh percaya diri. Segera setelah dia selesai dan mendapat tepuk tangan hadirin, aku kembali terlibat pembicaraan dengan teman-temanku sampai aku melupakan pria tadi.

Namun ternyata pria itu tidak melupakan aku. Malah, dia mengakui telah mengawasi gerak-gerikku dari awal.

Setelah rangkaian acara selesai dia mendekatiku dan memperkenalkan diri. Boris namanya. Dalam hati aku menyebutnya Boris si Murah Senyum. Boris si Karismatik. Atau Boris si Wangi (ya, aku suka sekali wanginya). Kami berjalan mengelilingi desa, bercakap-cakap lama, sampai malam; tentang segala hal, tentangnya, pekerjaannya, tentangku, dan aku bercerita dengan jujur tentang ayahku. Boris memegang tanganku, menciumnya dengan lembut, dan berkata, “Aku tidak peduli ayahmu menentang pemerintah. Aku akan menentang dunia untuk bisa bersamamu.”

Dan aku pun luruh sepenuhnya, seperti percik es yang kau taruh di atas lidahmu, seperti sebongkah salju yang kau remas di tanganmu. Cepat, langsung, dan tanpa ragu.

*

“Rambutmu indah, Anna. Itu yang membuatku jatuh cinta di detik pertama aku melihatmu.”

Saat itu mendekati akhir bulan Oktober. Dia telah kembali dari garis depan perang, ke desaku, untukku.

“Rambutku saja?” tanyaku.

“Awalnya ya,” ujarnya. “Sedetik kemudian aku jatuh cinta pada matamu. Lalu hidungmu. Lalu bibirmu. Lalu dagumu. Lalu jari-jemarimu. Hanya membutuhkan waktu satu menit untuk mencintaimu seluruhnya, seutuhnya.”

Kami berjalan melewati gedung balai desa tempat kami pertama bertemu. Tiba-tiba dia berhenti dan berbalik.

“Aku seorang serdadu,” ujarnya.

“Aku tahu,” balasku.

“Aku tidak punya uang banyak,”

“Aku tahu.”

“Yang aku punya hanya seragam ini dan beberapa rubel peninggalan orang tuaku.”

“Aku tahu.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku tahu. Dan aku padamu.”

“Maukah kau menikah denganku?”

Dia menggenggam kedua tanganku erat. Aku menatap matanya. Sorot matanya hangat, hangat sekali, sepuluh kali lipat lebih hangat dari matahari Soviet yang sangat tidak ramah diatas kami. Mataku mulai berair.

“Ya,” ujarku, air mataku mengalir. “Tentu saja. Ya, ya, seribu ya.”

Dia mendekapku, mengecupku, dan kami tertawa, lalu menangis, lalu berdansa diiringi salju. Aku tidak peduli bahkan jika dunia meledak di sekelilingku; aku tidak percaya ada orang yang bisa lebih berbahagia dari kami saat itu.

*

Di balai desa yang sama itu pun kami menikah. Tanpa pesta, tanpa gaun pengantin, tanpa cincin, tanpa hingar bingar yang tak perlu dalam suasana pasca perang seperti itu. Malamnya dan dua malam setelahnya adalah saat terindah dalam hidup kami. Kami tidak terpisahkan. Kami adalah satu entitas, utuh, tidak mungkin terbagi.

Hari itu adalah hari ketiga pernikahan kami saat Boris harus kembali ke pasukannya.

Wajah kami berdua basah karena air mata. Aku menciumnya lama sekali, seolah waktu berhenti telah berputar dan hanya ada kami berdua. Dia berjanji tidak akan membuang waktu untuk segera kembali padaku setelah masa tugasnya usai.

Aku menatap punggungnya pergi menjauh, berusaha tidak mengindahkan perasaan aneh yang menggangguku bahwa aku akan lama sekali sampai aku bisa bertemu dengannya lagi.

*

Orang-orang itu datang lagi di tengah malam. Bau mereka bahkan jauh lebih buruk dari yang terakhir kuingat. Mereka menyeret Ivan dengan wajahnya menghadap tanah, meninggalkan jejak merah panjang di salju. Mereka menendang ibu dengan sepatu bot mereka yang kuyakin terbuat dari besi. Aku dihantam oleh senjata mereka sampai wajahku lebam. Kata mereka kami adalah musuh masyarakat dan detik itu juga kami harus ikut mereka ke daerah pembuangan internal di Siberia. Aku tidak perduli jika mereka membunuhku, aku tidak mau meninggalkan Borovlyanka karena aku tahu Boris pasti akan kembali. Aku lebih baik mati daripada meninggalkannya. Itu yang aku teriakkan saat aku merebut senapan salah satu dari mereka dan menempelkan moncongnya ke pelipisku. Mereka tidak berhenti memukulku hingga akhirnya aku menyerah. Aku ingat aku tidak bisa berhenti meratap sampai kami tiba di desa pengasingan kami. Dan setiap mereka menyiksa kami, seberapun beratnya, yang ada di benakku hanya dia; namanya yang kusebut setiap waktu dalam setiap nafasku. Aku hanya menantikan hari dimana aku bisa melihat senyum hangatnya lagi, mendekapnya lagi, menghirup wanginya lagi. Aku merindukannya seperti Soviet merindukan hangatnya mentari.

**

 

—1947

 

Aku berdiri sendirian di atas salju, foto kekasihku di tanganku dan keputusasaan mendalam di hatiku. Rumah kami yang dulu telah kosong, terbengkalai. Tidak ada sama sekali tanda-tanda penghuninya. Aku telah pulang untuknya, dan kekasihku telah pergi.

Mungkin untuk selamanya.

Aku sudah berusaha mencarinya ke seluruh desa. Tidak ada yang tahu ia dan keluarganya kemana. Tidak ada yang mau tahu.

Di bawah warna langit yang sangat kubenci itu aku jatuh terduduk dan melolong putus asa.

**

 

1949

 

“Lupakan dia, Anna. Toh dia juga sudah melupakanmu,” ibu berkata berulang kali. Aku tidak pernah mendengarkannya. Masih, tiap malam, aku menciumi fotonya hingga aku terlelap.

“Dia tidak pernah menulis surat padamu kan?” (tapi aku tetap bersikeras—dia pasti akan menemukanku suatu hari nanti, dan kita akan bersatu lagi, kali ini untuk selamanya. Pasti, pasti, pasti…)

“Dia tidak pernah menulis surat padamu, karena dia sudah menikah lagi, tahu.”

Aku menolak untuk mempercayai ibu. Aku masih mempertahankan harapanku agar tidak menipis seiring berjalannya waktu.

Hingga suatu sore ketika aku pulang dari ladang, kudapati ibu sedang membakar segala hal tentang Boris—surat-suratnya, foto-fotonya, bahkan foto pernikahan kami. Ratapanku tidak digubris. Aku berlari kembali ke ladang untuk menggantung diriku karena sudah tak sanggup lagi hidup tanpa kekasihku. Ibu mengejarku, menamparku, dan menghardikku, “Jangan bodoh!”

Dia menamparku lagi. “Ada seorang pria baik yang ingin melamarmu. Kamu beruntung masih bisa punya masa depan. Terima dia. Lupakan Boris. Dia tidak akan pernah kembali.”

Aku tidak punya pilihan lain. Aku pun menikahi Nefed. Tapi melupakan Boris sama mustahilnya dengan mengubah warna langit menjadi hijau. Aku hanya ingin dia.

**

 

1970

 

Hampir tiga puluh tahun berlalu sudah. Aku masih belum bertemu Anna.

Aku telah mencoba melanjutkan hidupku. Memang, aku menikah lagi, tapi hatiku hanya miliknya. Aku kini menjadi penulis, menuangkan kerinduanku pada cinta sejatiku dalam berlembar-lembar buku, berharap semoga entah bagaimana dia membacanya dan bisa menemukanku.

Aku ingat saat berjalan sendirian menyusuri Moskow, seorang wanita tua bertudung menghampiriku dengan salah satu bukuku ditangannya. “Aku hanya ingin bertanya,” ujarnya, “apakah tokoh perempuan dalam novel ini benar-benar ada?”

“Ya,” jawabku.

“Jadi ceritanya nyata? Kalian bersama hanya tiga malam?”

Aku mulai merasakan tenggorokanku tercekat, jadi aku cuma bisa mengangguk.

Wanita itu memperhatikanku selama beberapa detik, lalu, dengan air mata berlinang, pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

**

 

2007

 

Jujur, ketika pemerintahan Uni Soviet kami runtuh enam belas tahun lalu, aku lega. Luar biasa lega. Kami telah hidup dibawah bayang-bayang kekejaman mereka selama puluhan tahun. Kini kami bebas. Aku tak lagi membenci udara Soviet setelah kusadari betapa berharganya udara segar itu.

Sekarang aku sendirian. Ibu dan Ivan sudah meninggal beberapa tahun lalu. Begitu pula Neved, suami keduaku. Anak-anak dan cucu-cucuku telah hidup mandiri dan tinggal terpisah denganku. Jadi ya, aku telah menjadi seseorang yang selama ini aku takuti: wanita tua yang hidup sebatang kara.

Segera setelah aku telah diizinkan pemerintah untuk bepergian, aku memutuskan untuk mengunjungi Borovlyanka. Bagaimanapun itu adalah tempat dimana kami pertama bertemu. Setidaknya aku akan berada dekat kenangannya. Mungkin, mungkin aku tidak akan lagi merasa terlalu kesepian.

Aku melangkah pelan menuju rumah tempat aku dibesarkan. Ajaib, dia masih tegak berdiri di tempat yang sama, meskipun telah sangat usang dimakan waktu. Aku mendapati diriku menggigil. Bukan karena udaranya—hari itu tidak sedingin biasanya—tapi karena aku tak kuasa menahan tumpahan tangis. Begitu banyak yang telah terjadi disini, namun begitu sedikit waktuku bersamanya…

Dari kejauhan aku melihat sebuah mobil berjalan mendekat. Penumpangnya turun dan menutup pintu, pandangannya lurus padaku. Karena kabut Borovlyenka yang tebal, pertamanya agak sulit untuk mengenali siapa itu. Dia berlari—berlari sekuat yang dia bisa—hingga berhenti tepat di depanku.

Aku terpaku ke tanah. Demi segalanya yang berada di bumi dan langit, benarkah apa yang kulihat?

“Sayang,” ujarnya, tak lebih dari sebuah bisikan, “ini aku.”

Dia berdiri, terengah-engah, membelakangi matahari. Ini mimpi. Aku tahu ini mimpi.

“Aku telah menunggu sekian lama untuk menemukanmu… Istriku, hidupku…”

Dan rasa skeptisku seketika menguap lenyap.

Aku pun ambruk ke pelukannya, mendekapnya seperti aku mendekap nyawaku sendiri, menangis di dadanya lebih keras dari ketika aku pertama dilahirkan.

*

 

Moskow, musim semi 2007

 

Aku mengenakan gaun putih yang jatuh sampai ke mata kaki. Boris memakai jas dan dasi hitam. Mulanya aku tidak mau melakukan ini karena aku tahu aku pasti tampak konyol; menjadi pengantin di usiaku, dengan rambut yang sepenuhnya memutih dan tubuh renta, sama saja menjadi bahan lelucon. Tapi Boris sanggup meyakinkanku sehingga akhirnya aku luluh juga.

Ketika aku memandangi sosokku di cermin, aku bersiap untuk melihat pantulan perempuan keriput memaksakan diri memakai gaun pengantin. Tapi yang kulihat malah Anna di usia enam belas tahun, dengan rambut merahnya yang disanggul ke pinggir, mata biru cerianya dan bibirnya yang masih merah merekah. Aku tersenyum bahagia padanya, dan ia membalas senyumanku, cantik sekali.

Aku selalu ingin menikah di Red Square, di depan Katedral St. Basil. Boris mengabulkan keinginanku. Di tengah-tengah khalayak dan ramainya turis yang sibuk memotret di sana-sini, kami mengikat janji untuk selalu bersama dan tidak akan pernah terpisahkan, lagi.

Untuk kali ini aku yakin kami akan menepati janji kami.

**

 

— Epilog

 

Kumatikan alat perekamku sambil mengucap terima kasih kepada pasangan di hadapanku yang baru saja menyelesaikan cerita mereka yang luar biasa itu. Saat aku bangkit berdiri untuk pergi, aku mengawasi mereka sekali lagi, merasakan rasa haru yang mengembang di hatiku, ke dadaku, dan terus mendesak naik sampai ke tenggorokan.

Aku berjalan keluar dari rumah mereka yang mungil namun hangat dan kembali ke guyuran salju Moskow. Ada sesuatu yang harus aku lakukan sebelum pulang.

Aku menekan serangkaian nomor di ponselku.

“Hai,” ujarku, saat orang di seberang sana mengangkatnya. “Aku… pulang hari ini. Maafin aku ya? Aku janji nggak akan ngelewatin ulang tahun anak kita lagi demi kerjaan aku. Aku janji nggak akan ngebentak kamu lagi. Bilangin sama Toby, Papanya udah nyiapin kado kejutan buat dia. Tunggu aku di rumah ya, Ma. Aku pasti pulang buat kalian. I love you.”

Aku pun berjalan menuju airport dengan senyum mengembang.

 

***

end.

Catatan penulis:

Terinspirasi dari kisah Boris dan Anna Kozlov, pasangan asal Rusia yang terpisah selama 60 tahun lebih. Mereka menikah lagi di tahun 2007, di usia yang sudah sangat senja. Hingga kini mereka masih bersama dan tetap tidak terpisahkan.

borisanna

Advertisements

Dusk, Diminishing

Now that the ages of their ignorance has flown away like a thousand doves and they are left only with the remnants of their glory, the once youthful and vigorous Mr. Rifky and his then-childhood sweetheart, the stubborn, rebellious Mrs. Yanita Rifky opt for a nostalgic trip down the memory lane. With his still-reliable ’95 Toyota Kijang they drive away to the spot in the hills where she was first proposed to him the insane idea of running away together. The young Rifky thought, what the hell, they were young, this was them versus the world—and of course, nobody would understand how this seemingly preposterous idea was the most reasonable thing to do for them at that time.

So he concurred.

Life after that was far from breezy, as issues he never had expected precipitously bombarding them like atomic bombs on Hiroshima. Broke and penniless, the inexperienced Rifky scrambled through one rejected job application after another while Yanita kept popping babies. Hard times, difficult times, and what used to be called love started to taste stale and sour. Still he struggled and still she stayed because they’ve long since learned the meaning of the word ‘commitment’. When Rifky eventually managed to secure a humble yet decent position on a local newspaper, Yanita sold homemade snacks in the neighborhood to add to their income. And with what they could save up they raised their three offsprings to the point where they are well-off enough to casually forget their parents’ merit.

Thirty-second anniversaries later, when the kids have their own busy lives and the grandkids don’t really want anything to do with them, all they have is each other. She has baked his favorite assortment of snacks, arranged them neatly in a Tupperware to be consumed later, and he has ordered his driver to let him keep the car for the whole day. He misses driving by himself.

Sunset is slipping down as they reach their place of reminiscence. He parks their car near the edge when chilly gust of wind initiates shivers on Yanita. Rifky realizes this and quickly puts his aging arms around his wife, the latter grants him a small smile and snuggles deeper to the nook of his limbs.

And now here they stay, immovable as corals, eyes transfixed to the spreading of minuscule colors beyond and below their windshield, while the tunes of Heatwave’s Dreaming You from the car radio rolls around the air and suddenly they are teenagers again; prideful, arrogant, and in love.
Entry untuk  Jenny Matlock’s Alphabe-ThursdayAlphabet: D.