Sepertinya?

teddybear

Aku sepertinya kehilangan:

Suara bernyanyimu yang hanya berupa bisikan yang menenangkan. Tidak lirih, tidak lantang, tapi lembutnya memeluk inderaku dengan mulus, mengisi setiap ceruknya sampai penuh, dan terus masuk hingga menyelimuti hati. Tapi kini hati sedang menggigil. Hangatnya sudah menguap.

Aku perlu, nampaknya, untuk kamu nyanyikan lagi. Terus, sampai aku terlelap, dan lupa kamu sudah tidak di sini.

– 25 Desember 2013

Advertisements

Kita Untuk Sementara

Aku berjingkat tanpa suara untuk mengintip hatimu. Aku sangat memperhatikan langkahku agar tidak ada yang tahu.

Di sepanjang jalan banyak benda, yang bisa saja kusenggol secara tidak sengaja, mengancam akan menimbulkan suara bising yang bisa membangunkan dunia—dunia aku dan kamu, yang sebenarnya cuma aku yang pelihara. Aku yang pelihara, karena selama ini kamu belum yakin apa dunia tersebut ada atau hanya fragmen imajinasimu.

Ada kok, sebenarnya. Percaya deh.

Aku lho yang pastikan bahwa di dalamnya penduduknya sehat dan sejahtera, meskipun kadang ada saja yang membuat mereka putus asa dan ingin mengakhiri peradaban yang mereka bangun secara susah payah selama ini.

Kata-kataku tumpah ruah di dalam tapi tak sampai keluar. Hanya merembes sedikit, lalu makin sedikit, dan kamu semakin lama semakin tidak mempedulikan atap bocor di sudut kamarmu itu. Kamu mengabaikannya, menjadikan candaan. Padahal kalau kamu perhatikan, itu sebenarnya caraku untuk membuat kamu sadar: aku menginginkan kamu.

Kamu matikan lampu di hatimu bahkan sebelum aku tiba. Aku masih berharap melihat setidaknya sedikit cahaya saat aku memicingkan mata dari sela pintu. Kamu memejamkan mata dan aku tidak mau mengganggu damainya tidurmu, yang bebas dari keraguan yang mengepungmu di kala kamu terjaga. Aku paham di mimpi-mimpimu tidak ada aku; adanya dia, atau orang lain – siapa pun lah yang bukan aku. Di mimpiku, semuanya selalu kamu.

Kapan mimpi kita bisa resiprokratif, aku tidak tahu. Kapan hati kita bisa seperti itu, aku lebih tidak bisa membayangkan. Mungkin rasanya akan terlalu hebat. Atau mungkin malah biasa saja. Hidupku belum berjalan seperti yang kuinginkan sejauh ini, namun jika kita bisa menjadi sebuah kata yang aku dan kamu dapat ucapkan dengan bangga dan tulus, itu akan menjadi perwujudan nyata impianku. Kita. Kata itu sinonim kebahagiaan untukku, kalau di dalamnya terdiri dari aku dan kamu.

Semua ini kutiupkan ke dalam mimpimu malam ini, Kelam. Kamu Kelamku, yang tak bisa kutinggalkan. Kamu yang memproklamirkan diri sebagai tak lain hanya bayangan yang muncul untuk menaungi hanya saat kamu merasa ada yang membutuhkanmu, dan merajuk saat orang yang kamu harap membutuhkanmu tidak menggubrismu – dan aku, bayangan dari bayanganmu, jauh tanpa memijak tanah, teman dekatmu yang tidak di dekatmu dan tidak lebih dari itu buatmu.

Selamat malam, sampai kita bertemu lagi, sampai aku tersenyum, menunggu, berharap, sakit, senang, bahagia, berdoa, dan pasrah lagi. Sampai “kita”, meskipun sementara, bisa “ada”.

Sampai nanti.

– 28 Agustus 2013

Sungai di Langit

milky-way-galaxy-615

“Melayang itu sangat mudah ketika kamu sudah berada di antara bintang-bintang sejak awal.”

Gadis mengayunkan kedua kakinya yang terjuntai telanjang di atas ratusan kerlip kecil yang menyebar di kegelapan tak berkesudahan. Ia menghembuskan nafas – sempat mengukur berapa lama kira-kira tubuhnya butuhkan untuk mengambang hingga sampai ke planet terdekat, sebelum akhirnya benaknya mentok dan ia menyerah. Sepertinya akan lebih baik jika ia menyerahkan momentum pendaratannya kepada alam yang tentu lebih pintar dan lebih ahli dalam soal begini. Atau kalau tidak, nanti saja ia tanyakan ke Gangga. Dia biasanya tahu.

“Aku mau mengambil satu,” Gadis menengadah, telunjuknya mengarah ke binar bintang keunguan di sebelah kanan kakinya. “Bisa tidak ya?”

Gangga mengambil tempat di sebelah Gadis. “Yang itu?”

“Bukan, sebelahnya. Yang agak ungu,” Gadis menggeser jari Gangga hingga menunjuk ke tempat yang benar, tidak menyadari nafas Gangga yang sempat berhenti di detik kulitnya menyentuh kulit Gadis.

Gangga mengangguk, berusaha tidak menggubris kekecewaannya saat Gadis menarik tangannya kembali. “Bisa. Tapi sepertinya kamu akan agak lama sampai di sana.”

Gadis mengangkat bahu. “Tidak masalah. Aku punya banyak waktu.”

“Mau sekarang?” tanya Gangga. Gadis terlihat menimbang-nimbang.

“Besok saja. Sekarang aku lelah, mau tidur. Sudah hampir terang.”

Gadis mendongak. “Besok temani aku lagi ya?”

Anggukan Gangga mengembangkan senyum Gadis, yang serta merta menyandarkan tubuhnya di bahu pemuda itu. Gangga menarik hawa lembut tubuh Gadis, menyecap kehangatannya, menikmati keberadaannya selagi dia bisa.

“Selamat tidur Gadis,”

Gangga memejamkan mata saat hangat tubuh itu mulai sirna, wanginya mulai pergi, hingga yang tertinggal hanya lah pendar cahaya biru dari pangkuannya. Sinar itu perlahan melayang, terus naik ke atas, sebelum akhirnya lenyap sama sekali. Gangga hanya bisa menatap bundaran biru nun jauh di langit sana sambil berharap semoga Gadis sampai dengan selamat, hingga besok alam mengizinkan mereka untuk bertemu lagi. Dan Gangga akan punya satu kali kesempatan lagi untuk bersamanya.

Ombak Hangat

august2011-082

Kuingat kamu melalui ombak yang hangat dan pasir putih yang lolos dari jemari kakiku. Yesaya berlarian, terpekik senang mengejar bola berwarna-warni seukuran tubuhnya di sepanjang garis buih; untuk seumurnya anak itu cukup pintar untuk tidak bermain jauh-jauh. Aku melihatmu di matanya dan rambut ikal cokelatnya, pipinya yang bulat bersemu merah dan gigi depannya yang tidak sama rata. Yesaya bocah yang tampan. Aku bangga memilikinya, beserta kenanganmu.

Tujuh tahun lalu ombaknya tidak sehangat ini dan hari tidak secerah sekarang. Warna langit kala itu senada dengan pantulannya di samudera di bawahnya, seperti campuran cat air yang kamu pakai untuk melukis gaun yang kupakai di saat kita bertemu untuk pertama kalinya.

“Kenapa bajunya kelabu?” itu hal pertama yang kamu tanyakan padaku, yang kujawab dengan mengangkat bahu. Kamu cuma orang asing di pulau yang kudatangi semata untuk liburan pelepas penat kedewasaan. Kamu menjulang di atasku, gagah, mempesona, ramah, dan aku tetap tak acuh. Perempuan. Di tanah orang. Jual mahal sedikit lah, pikirku (bodoh). Padahal kamu salah satu dari sangat sedikit sosok yang mau mengajakku berbincang sejak aku tiba di sini, seluruhnya sendiri.

Kita berbincang. Kamu pelukis, sementara aku tidak terlalu menarik untuk diceritakan. Jadinya aku lebih menikmati kisah hidupmu. Lidahmu cadel. Aku sering geli sendiri mendengarmu (mencoba) mengucapkan beberapa kata, hingga akhirnya kita sama-sama menertawakan ketidakmampuanmu menyebut namamu sendiri dengan benar. Bergelas-gelas minuman. Berpuluh-puluh nyanyian kemudian. Belasan jam yang melintas setelah itu. Semuanya kita tidak hanya sekadar habiskan atau lewati, namun kita nikmati.

Kamarmu wangi cendana, yang entah bagaimana menyatu dengan manisnya bersama aroma cologne-mu yang segera setelahnya menjadi wangi kesukaanku, hingga sekarang. Malam itu agak gerah, jadi kamu membuka pintu kamarmu untuk membiarkan angin masuk. Aku bisa melihat bulan purnama dengan sempurna dari situ. Kamu bilang ini saatnya melukis.

Bulan mengantarkan ilham, katamu. Cat air, ujarmu, lebih memahamimu. Aku mengiyakan saja, terlalu penasaran dengan hasilnya. Kamu melukis dengan jari, bukan kuas. Aku menanti hingga aku tertidur lagi. Kamu bangunkan aku saat fajar menjelang.

Perempuan di kanvasmu terlihat begitu kesepian, kubilang saat kamu meminta pendapatku.

Tanganmu merangkulku, jemarimu masih belepotan cat; bagiku, hangat tubuhmu seperti kelambu yang melindungimu dari gigitan serangga. Ringan namun menentramkan.

“Apa kamu sekarang masih kesepian?”

Tidak. Tidak bersamamu.

Kita tidak mengucap janji apa pun kala bertukar selamat tinggal. Realitas menungguku di seberang sana, dan kamu terlalu mirip mimpi indah yang membuatku tidak mau terbangun, seberapa harus juga. Karena itu aku pergi. Kita tidak saling menghubungi. Buat apa? Kamu kan bukan kenyataan untukku.

Empat bulan sebelum Yesaya lahir, aku kembali. Tidak untuk apa-apa. Tidak karena merindukanmu. Tidak juga karena aku merasa harus memberi tahumu mengenainya. Aku hanya merasa perlu datang lagi. Di kuil dekat tempat tinggalmu, aku menanyakan namamu.

Sudah hampir dua purnama, kata lelaki tua di sana, kamu tidak tinggal di situ lagi. Dia membawaku ke rumah barumu. Dia mengantarkanku ke pusaramu.

Untuk pertama kalinya, aku merasakan tendangan Yesaya.

Di pantai yang sama di saat kita bertemu pertama kali, di hari yang luar biasa berbeda, Yesaya menghampiriku sambil tertawa. Memelukku. Celana renangnya berwarna kelabu. Namun tidak ada di antara kami yang merasa kesepian. Kami punya satu sama lain. Dan di pantai ini, aku dan Yesaya bersamamu.