Mailbox

phone

 “Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Setelah nada berikut, silakan rekam pesan Anda.”

BIIIP.

“Hai.

Emmmmm.

Aku- aku mau ngomong sesuatu. Banyak sih, bukan cuma sesuatu. Berarti banyak sesuatu? Eh tapi itu bukan bahasa Indonesia yang baik dan benar ya? Aku mau ngomongin banyak hal. Ya. Gitu maksudnya. Kamu dengerin ya? Soalnya ini penting. Penting banget. Setidaknya buat aku. Moga aja buat kamu juga nanti jadi penting. Nggg, pokoknya dengerin dulu aja ya.

Ehm.

Dari mana ya mulainya?

Mulai dari- oh, kita mulai dari waktu aku pertama ketemu kamu. Lima bulan yang lalu. Februari. Aku nggak pernah lupa hari, tanggal, dan bahkan jamnya. Rabu, 4 Februari, tepat jam 3 sore lebih enam belas menit. Kamu jalan di hadapan aku. Kamu pake atasan warna ungu muda, rok selutut warna hitam, dan sepatu boot beledru. Saat itu hujan; kamu bawa payung kecil warna putih yang ada gambar pandanya. Kamu juga pake syal rajut warna warni—mungkin biar kamu ga kedinginan ya?  Rambut kamu waktu itu tergerai sebahu. Iya, waktu rambut kamu masih sebahu.

Kamu berdiri tepat di seberang jalan tempat aku berada waktu itu dan kamu langsung menarik perhatianku. Kamu lagi nungguin taksi yang lamaaa banget datangnya. Kamu berkali-kali mengecek jam tangan kamu. Ekspresi kamu gelisah banget, menandakan kalau kamu sepertinya telat datang ke suatu acara atau suatu janji. Kamu tahu nggak? Kalo lagi gelisah kamu lucu deh mukanya. Alis kamu berkerut gitu, terus mulutnya komat kamit nggak jelas. Aku hanya memperhatikan sambil senyam-senyum.

Sebenernya aku pengen banget ngehampirin kamu, tapi nggak berani. Lagian taksinya juga keburu datang.

Aku mengawasi kamu pergi naik taksi itu. Kamu tahu waktu itu aku mikir apa? Aku berdoa untuk diberi kesempatan melihat kamu lagi.

Seminggu setelahnya, doa aku terkabul. Kamu datang lagi tepat ketika aku kebetulan berada di situ. Tapi kali ini kamu berjalan tepat ke dalam kafe di seberang jalan. Dan kali ini, aku tahu kamu lagi nggak nungguin orang. Kamu sedang ingin sendiri.

Kamu ngeluarin laptop kamu dan mesen kopi satu cangkir. Oh, sama puding. Puding warna hijau. Mungkin puding pandan. Hahaha. Nggak, bercanda. Aku tahu kok kamu suka puding green tea. Kafe itu kan beken karena puding green tea-nya.

Rambut kamu, waktu itu, diikat agak tinggi. Aku suka gaya rambut kamu yang begitu, soalnya aku jadi bisa ngeliat tengkuk kamu. Keliatannya segar. Bersih.

Lama aku merhatiin kamu, dan lama kamu juga nggak mengalihkan pandangan dari layar laptop. Aku menebak warna mata kamu agak kecoklatan. Memang ga kelihatan jelas dari tempat aku saat itu, tapi entah kenapa aku yakin. Beberapa kali kamu mengigit bibir saat menatap layar laptop. Sepertinya itulah kebiasaan kamu saat sedang berpikir keras. Kebiasaan yang membuat aku betah terus-terusan melihat kamu.

Saat itu harinya cerah. Nggak dingin, nggak panas. Udaranya lagi enak. Aku bisa melihat poni kamu melambai sedikit tertiup angin yang masuk dari sela jendela kafe. Aku ingin, ingin sekali membiarkan tanganku untuk membantu menyibakkannya. Aku ingin sekali pergi ke sana, duduk di depan kamu, terus memulai percakapan sama kamu. Tentang apa aja. Mungkin aku bakal buka obrolan kita dengan cara sok-sok minta tisu. (Iya tahu, emang norak banget) Dan nantinya aku bakal nanya jenis musik atau film apa yang kamu suka. Atau mungkin buku—itu juga kalo kamu suka baca buku. Apapun itu topiknya, yang penting orangnya kamu. Itu yang  bikin berarti.

Aku belum berani melakukannya. Masih, belum.

Akhirnya, aku yang pergi duluan. Aku memang ada perlu. Tapi sumpah, nggak rela banget rasanya ninggalin tempat itu. Ninggalin pemandangan seindah kamu.

Sejak hari itu, aku selalu melihat kamu kemanapun aku pergi. Kamu adalah kasir di toserba tempat aku membeli rokok. Kamu adalah penjual kue keliling menjajakan dagangannya di atas sepeda dekat komplek rumahku. Kamu menyanyikan lagu kesukaanku di radio. Kamu adalah setiap orang yang berpapasan denganku di jalan. Kamu adalah objek semua mimpiku setiap malam. Kamu menghuni otakku dan membangun rumah disana. Lalu kamu membersihkan tempat tinggalmu dari segala detail ide lain yang kamu rasa mengganggu. Jadi ya, hasilnya, aku kehilangan kemampuan untuk berfikir kecuali menyangkut kamu. Aku nggak menyalahkan kamu untuk itu. Nggak sama sekali. Aku justru bersyukur kamu, walaupun secara nggak sadar, telah bersedia menjadi inspirasiku. Dan kalau kamu belum tahu, kamu itu seorang motivator yang luar biasa lho. Kamu yang menyemangatiku untuk bisa sanggup menyelesaikan skripsi yang sudah dua tahun aku tunda untuk selesaikan hanya karena aku takut untuk menghadapi sidang akhir. Di telingaku kamu selalu membisikkan kata-kata penyemangat. Lucu sih. Aku kan belum pernah benar-benar mendengar suara kamu. Tapi bisa aku bayangkan seperti apa. Suara kamu  lantang tapi halus. Tegas tapi lembut. Kontradiktif, mungkin pendapat kamu. Tapi tidak juga; memangnya sesuatu tidak boleh tegas dan lembut pada saat yang bersamaan?

Itu bagaimana aku selalu membayangkan kamu.

Dan tahu nggak? Takdir memang aneh. Aku baru sadar setelah beberapa lama kalau kita naik bis jurusan yang sama setiap pagi. Aku mengutuk diri; kenapa tidak dari dulu aku diberi kesempatan untuk melihat kamu?

Tapi tidak apa-apa. Aku bersyukur tahu itu sebelum terlambat. Setiap hari aku naik di jam yang sama demi mencari kamu. Seringkali aku tidak seberuntung itu, tapi saat aku menemukanmu, hari itu selalu menjadi hari yang indah. Pernah kamu bahkan duduk hanya beda dua deretan di depanku. Pernah diagonal kiri di belakangku. Aku kadang susah mempercayai bahwa kita pernah sedekat itu dan aku masih saja tidak bisa menyapa kamu. Karena aku tahu itu tidak mungkin. Aku bukan bagian dari dunia kamu, dan tidak akan pernah menjadi salah satu darinya. Jadi aku sungguh menikmati apa yang bisa aku dapatkan, karena aku tahu persis ini yang terbaik. Dan aku merasa ini cukup. Serius. Aku juga tidak minta lebih. Kesempatan yang sekarang aku dapat untuk bisa tahu kamu ada sudah luar biasa.

Jadi begitulah. Semuanya sudah tumpah. Kamu mungkin akan bilang aku pengecut karena nggak berani mengatakan semuanya langsung dan malah memilih mailbox handphone sebagai media-nya. Nggak jantan banget, mungkin kamu akan bilang begitu. Tapi sejujurnya aku memang tidak tahu cara lain untuk bisa mengungkapkan semua ini sama kamu.

Aku bahkan tidak tahu nama kamu. Tapi aku tahu persis bahwa aku jatuh cinta sama kamu. Serasa sudah selamanya. Dan tidak akan ada habisnya.

Sekali lagi maaf aku harus pake cara ini. Aku janji aku akan langsung hapus nomor kamu. Aku cuma butuh kamu untuk mendengarkan ini.

Terima kasih ya. Aku tahu kamu akan selalu bahagia, seperti layaknya kamu membuat aku bahagia dengan adanya kamu dalam hidupku.”

BIP.

Dia memasukkan handphone-nya kembali ke dalam saku sebelum berdiri. Dari kejauhan terdengar seruan seorang gadis, “Oh, itu kali orangnya ya?” yang kemudian terburu-buru berlari menuju bangku di tengah taman itu dengan seorang pemuda mengikuti di belakangnya.

“Ya ampun, makasih banget ya Mas!” gadis itu menghampirinya dengan ekspresi luar biasa lega. Atasannya ungu muda, dan rambutnya diikat agak tinggi. Di tangannya tersampir payung berpola panda. Suaranya lantang tapi halus. “Makasih, makasih banget. Aku udah pasrah pas tahu hape aku ketinggalan di bis. Nggak  nyangka bisa ketemu lagi! Makasiiih banget ya Mas! Sayang, hape aku ketemu!”

Pemuda di belakang gadis itu menyalami pria bangku taman. “Makasih Mas. Semoga kebaikannya dibalas sama Tuhan.”

Pria bangku taman itu menelan ludah. Bibirnya terasa kaku.

“Sama-sama Mas,” ujarnya, membalas salaman si pemuda.

Gadis itu tersenyum manis sebelum menggandeng kekasihnya pergi dari sana.

“Batrenya habis, sayang. Kebayang banyak kali ya missed call sama SMS ke hape aku yang nggak kejawab. Kudu cek mailbox nih kayanya…”

Pria tadi hanya memandang mereka selama beberapa detik sebelum perlahan melangkah pergi, tidak tahu ke mana, asal dia bisa menjauh.

12 Januari 2014

Potret Jakarta #1

219830_unjuk-rasa-sopir-metro-mini_663_382

Aku hanya bisa mengumpat
Saat hidungku terlanjur mampat
oleh kepungan asap knalpot dan bau keringat
ah, Bang Mamat!

Pergi pagi tak sempat mandi
Pulang malam juga belum makan
Bukannya dikeloni malah dicibir bini
Karena kurang setor duit bulanan

Bang Mamat supir Metromini
Kretek murah terselip di gigi
Telah lama lekang mimpi
Jadi pegawai negeri bergaji tinggi

Aku hanya bisa nyengir
Saat tubuh terhempas ke pinggir
Penumpang lain pasrah pada melipir
Metromini belok mendadak nyaris tergelincir

–Bandung, 10 September 2014

Soviet Merindu Mentari

(entry untuk Lomba Cerpen BWS tahun 2010)

 

—1945-1946

 

Aku tidak mungkin lupa hari itu. Rabu, 4 Juli, tahun 1945. Pemimpin kami Stalin baru rampung menandatangani Konferensi Yalta atas nama Soviet. Bulan Juli—setahuku seharusnya musim panas, ya? Tapi tidak di desaku. Borovlyanka, Siberia. Aku ingat berjalan diatas lapisan es yang menutupi tanah, ingat langitnya yang kelabu nyaris hitam, ingat bagaimana pandanganku seperti tertutupi selaput tipis karena salju yang enggan berhenti turun.

Aku mengenakan mantel ibuku. Punyaku sudah terlalu tipis. Dulu ibu selalu sering menjahitkan mantel untuk kami, anak-anaknya. Kakak perempuanku, Vanya, kawin dengan petani desa sebelah dan kami tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Anton adik laki-lakiku meninggal tiga musim dingin lalu. Dia memang terlahir ringkih, tidak bisa berhenti batuk, dan sangat pucat, sepucat salju. Malam itu aku mengawasinya tertidur—lama sebelum aku menyadari dia sudah tidak bernafas lagi. Ayahku? Dia seorang petani yang menolak untuk bekerja di pertanian kolektif. Aku baru enam tahun saat mereka, orang-orang berseragam yang bau busuk alkohol dan tembakau itu, mendobrak rumah kecil kami dan membawanya pergi. Aku pikir aku mendengar suara kembang api setelahnya, tapi ibu bilang itu bukan kembang api.

Jadi yang tertinggal hanya aku, ibuku, dan kakak laki-laki tiriku, Ivan, anak hasil perkawinan ayah dengan istri pertamanya. Ivan yang membiayai kami setelah ayah tidak ada.

Aku menata rambutku menjadi sanggul anggun yang terpilin dengan rapi di samping kepala. Ibuku sering bilang bahwa rambut merah perlu dirawat dengan hati-hati, kalau aku tidak mau kelihatan seperti Baba Yaga, makhluk halus mengerikan yang menghantui desa dan suka menculik anak-anak. Aku biasa menyisirnya setiap sebelum aku pergi tidur dan setelah bangun. Aku memutuskan untuk memberinya perhatian ekstra khusus untuk hari ini. Ternyata nanti terbukti bahwa usahaku tidak sia-sia.

Aku melangkah ke dalam aula balai desa, dalam hati merasa tidak seharusnya berada di sini. Umurku baru enam belas tapi aku malah mendatangi acara pertemuan anggota muda partai komunis. Tapi ibu dan Ivan bilang ini penting. Penting untuk keberlangsungan hidup kami, terutama.

Di sudut ruangan aku melihat Lena dan beberapa temanku yang lain. Lena melambai dan menyuruhku menghampirinya. Terlintas sedikit kesombongan di kepalaku bahwa tidak ada dari mereka yang terlihat secantik aku.

Bagian depan aula desa sudah dipasangi mimbar. Seorang pria berdiri tidak jauh dari situ, menatap beberapa lembar kertas di tangannya. Dia kelihatan tidak lebih dari delapan belas tahun, cukup tampan, dengan perawakan tegap. rambut hitam tersisir rapi ke pinggir, hidung lurus, alis tebal, dan kening yang tampak mengilat karena keringat. Dia pasti yang akan berpidato nanti. Tidak ada lagi orang di ruangan ini yang terlihat segugup dia. Mendadak dia mengangkat kepalanya ke arahku. Aku memberinya seulas senyum menenangkan. Dia membalas senyumku.

Tebakanku benar. Ternyata dia adalah seorang sekretaris untuk perkumpulan Komunis Muda, dan dia mewakili organisasinya untuk berpidato disitu. Tampaknya dia cukup berhasil mengatasi rasa gugupnya—kata-kata meluncur dari mulutnya dengan lancar dan penuh percaya diri. Segera setelah dia selesai dan mendapat tepuk tangan hadirin, aku kembali terlibat pembicaraan dengan teman-temanku sampai aku melupakan pria tadi.

Namun ternyata pria itu tidak melupakan aku. Malah, dia mengakui telah mengawasi gerak-gerikku dari awal.

Setelah rangkaian acara selesai dia mendekatiku dan memperkenalkan diri. Boris namanya. Dalam hati aku menyebutnya Boris si Murah Senyum. Boris si Karismatik. Atau Boris si Wangi (ya, aku suka sekali wanginya). Kami berjalan mengelilingi desa, bercakap-cakap lama, sampai malam; tentang segala hal, tentangnya, pekerjaannya, tentangku, dan aku bercerita dengan jujur tentang ayahku. Boris memegang tanganku, menciumnya dengan lembut, dan berkata, “Aku tidak peduli ayahmu menentang pemerintah. Aku akan menentang dunia untuk bisa bersamamu.”

Dan aku pun luruh sepenuhnya, seperti percik es yang kau taruh di atas lidahmu, seperti sebongkah salju yang kau remas di tanganmu. Cepat, langsung, dan tanpa ragu.

*

“Rambutmu indah, Anna. Itu yang membuatku jatuh cinta di detik pertama aku melihatmu.”

Saat itu mendekati akhir bulan Oktober. Dia telah kembali dari garis depan perang, ke desaku, untukku.

“Rambutku saja?” tanyaku.

“Awalnya ya,” ujarnya. “Sedetik kemudian aku jatuh cinta pada matamu. Lalu hidungmu. Lalu bibirmu. Lalu dagumu. Lalu jari-jemarimu. Hanya membutuhkan waktu satu menit untuk mencintaimu seluruhnya, seutuhnya.”

Kami berjalan melewati gedung balai desa tempat kami pertama bertemu. Tiba-tiba dia berhenti dan berbalik.

“Aku seorang serdadu,” ujarnya.

“Aku tahu,” balasku.

“Aku tidak punya uang banyak,”

“Aku tahu.”

“Yang aku punya hanya seragam ini dan beberapa rubel peninggalan orang tuaku.”

“Aku tahu.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku tahu. Dan aku padamu.”

“Maukah kau menikah denganku?”

Dia menggenggam kedua tanganku erat. Aku menatap matanya. Sorot matanya hangat, hangat sekali, sepuluh kali lipat lebih hangat dari matahari Soviet yang sangat tidak ramah diatas kami. Mataku mulai berair.

“Ya,” ujarku, air mataku mengalir. “Tentu saja. Ya, ya, seribu ya.”

Dia mendekapku, mengecupku, dan kami tertawa, lalu menangis, lalu berdansa diiringi salju. Aku tidak peduli bahkan jika dunia meledak di sekelilingku; aku tidak percaya ada orang yang bisa lebih berbahagia dari kami saat itu.

*

Di balai desa yang sama itu pun kami menikah. Tanpa pesta, tanpa gaun pengantin, tanpa cincin, tanpa hingar bingar yang tak perlu dalam suasana pasca perang seperti itu. Malamnya dan dua malam setelahnya adalah saat terindah dalam hidup kami. Kami tidak terpisahkan. Kami adalah satu entitas, utuh, tidak mungkin terbagi.

Hari itu adalah hari ketiga pernikahan kami saat Boris harus kembali ke pasukannya.

Wajah kami berdua basah karena air mata. Aku menciumnya lama sekali, seolah waktu berhenti telah berputar dan hanya ada kami berdua. Dia berjanji tidak akan membuang waktu untuk segera kembali padaku setelah masa tugasnya usai.

Aku menatap punggungnya pergi menjauh, berusaha tidak mengindahkan perasaan aneh yang menggangguku bahwa aku akan lama sekali sampai aku bisa bertemu dengannya lagi.

*

Orang-orang itu datang lagi di tengah malam. Bau mereka bahkan jauh lebih buruk dari yang terakhir kuingat. Mereka menyeret Ivan dengan wajahnya menghadap tanah, meninggalkan jejak merah panjang di salju. Mereka menendang ibu dengan sepatu bot mereka yang kuyakin terbuat dari besi. Aku dihantam oleh senjata mereka sampai wajahku lebam. Kata mereka kami adalah musuh masyarakat dan detik itu juga kami harus ikut mereka ke daerah pembuangan internal di Siberia. Aku tidak perduli jika mereka membunuhku, aku tidak mau meninggalkan Borovlyanka karena aku tahu Boris pasti akan kembali. Aku lebih baik mati daripada meninggalkannya. Itu yang aku teriakkan saat aku merebut senapan salah satu dari mereka dan menempelkan moncongnya ke pelipisku. Mereka tidak berhenti memukulku hingga akhirnya aku menyerah. Aku ingat aku tidak bisa berhenti meratap sampai kami tiba di desa pengasingan kami. Dan setiap mereka menyiksa kami, seberapun beratnya, yang ada di benakku hanya dia; namanya yang kusebut setiap waktu dalam setiap nafasku. Aku hanya menantikan hari dimana aku bisa melihat senyum hangatnya lagi, mendekapnya lagi, menghirup wanginya lagi. Aku merindukannya seperti Soviet merindukan hangatnya mentari.

**

 

—1947

 

Aku berdiri sendirian di atas salju, foto kekasihku di tanganku dan keputusasaan mendalam di hatiku. Rumah kami yang dulu telah kosong, terbengkalai. Tidak ada sama sekali tanda-tanda penghuninya. Aku telah pulang untuknya, dan kekasihku telah pergi.

Mungkin untuk selamanya.

Aku sudah berusaha mencarinya ke seluruh desa. Tidak ada yang tahu ia dan keluarganya kemana. Tidak ada yang mau tahu.

Di bawah warna langit yang sangat kubenci itu aku jatuh terduduk dan melolong putus asa.

**

 

1949

 

“Lupakan dia, Anna. Toh dia juga sudah melupakanmu,” ibu berkata berulang kali. Aku tidak pernah mendengarkannya. Masih, tiap malam, aku menciumi fotonya hingga aku terlelap.

“Dia tidak pernah menulis surat padamu kan?” (tapi aku tetap bersikeras—dia pasti akan menemukanku suatu hari nanti, dan kita akan bersatu lagi, kali ini untuk selamanya. Pasti, pasti, pasti…)

“Dia tidak pernah menulis surat padamu, karena dia sudah menikah lagi, tahu.”

Aku menolak untuk mempercayai ibu. Aku masih mempertahankan harapanku agar tidak menipis seiring berjalannya waktu.

Hingga suatu sore ketika aku pulang dari ladang, kudapati ibu sedang membakar segala hal tentang Boris—surat-suratnya, foto-fotonya, bahkan foto pernikahan kami. Ratapanku tidak digubris. Aku berlari kembali ke ladang untuk menggantung diriku karena sudah tak sanggup lagi hidup tanpa kekasihku. Ibu mengejarku, menamparku, dan menghardikku, “Jangan bodoh!”

Dia menamparku lagi. “Ada seorang pria baik yang ingin melamarmu. Kamu beruntung masih bisa punya masa depan. Terima dia. Lupakan Boris. Dia tidak akan pernah kembali.”

Aku tidak punya pilihan lain. Aku pun menikahi Nefed. Tapi melupakan Boris sama mustahilnya dengan mengubah warna langit menjadi hijau. Aku hanya ingin dia.

**

 

1970

 

Hampir tiga puluh tahun berlalu sudah. Aku masih belum bertemu Anna.

Aku telah mencoba melanjutkan hidupku. Memang, aku menikah lagi, tapi hatiku hanya miliknya. Aku kini menjadi penulis, menuangkan kerinduanku pada cinta sejatiku dalam berlembar-lembar buku, berharap semoga entah bagaimana dia membacanya dan bisa menemukanku.

Aku ingat saat berjalan sendirian menyusuri Moskow, seorang wanita tua bertudung menghampiriku dengan salah satu bukuku ditangannya. “Aku hanya ingin bertanya,” ujarnya, “apakah tokoh perempuan dalam novel ini benar-benar ada?”

“Ya,” jawabku.

“Jadi ceritanya nyata? Kalian bersama hanya tiga malam?”

Aku mulai merasakan tenggorokanku tercekat, jadi aku cuma bisa mengangguk.

Wanita itu memperhatikanku selama beberapa detik, lalu, dengan air mata berlinang, pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

**

 

2007

 

Jujur, ketika pemerintahan Uni Soviet kami runtuh enam belas tahun lalu, aku lega. Luar biasa lega. Kami telah hidup dibawah bayang-bayang kekejaman mereka selama puluhan tahun. Kini kami bebas. Aku tak lagi membenci udara Soviet setelah kusadari betapa berharganya udara segar itu.

Sekarang aku sendirian. Ibu dan Ivan sudah meninggal beberapa tahun lalu. Begitu pula Neved, suami keduaku. Anak-anak dan cucu-cucuku telah hidup mandiri dan tinggal terpisah denganku. Jadi ya, aku telah menjadi seseorang yang selama ini aku takuti: wanita tua yang hidup sebatang kara.

Segera setelah aku telah diizinkan pemerintah untuk bepergian, aku memutuskan untuk mengunjungi Borovlyanka. Bagaimanapun itu adalah tempat dimana kami pertama bertemu. Setidaknya aku akan berada dekat kenangannya. Mungkin, mungkin aku tidak akan lagi merasa terlalu kesepian.

Aku melangkah pelan menuju rumah tempat aku dibesarkan. Ajaib, dia masih tegak berdiri di tempat yang sama, meskipun telah sangat usang dimakan waktu. Aku mendapati diriku menggigil. Bukan karena udaranya—hari itu tidak sedingin biasanya—tapi karena aku tak kuasa menahan tumpahan tangis. Begitu banyak yang telah terjadi disini, namun begitu sedikit waktuku bersamanya…

Dari kejauhan aku melihat sebuah mobil berjalan mendekat. Penumpangnya turun dan menutup pintu, pandangannya lurus padaku. Karena kabut Borovlyenka yang tebal, pertamanya agak sulit untuk mengenali siapa itu. Dia berlari—berlari sekuat yang dia bisa—hingga berhenti tepat di depanku.

Aku terpaku ke tanah. Demi segalanya yang berada di bumi dan langit, benarkah apa yang kulihat?

“Sayang,” ujarnya, tak lebih dari sebuah bisikan, “ini aku.”

Dia berdiri, terengah-engah, membelakangi matahari. Ini mimpi. Aku tahu ini mimpi.

“Aku telah menunggu sekian lama untuk menemukanmu… Istriku, hidupku…”

Dan rasa skeptisku seketika menguap lenyap.

Aku pun ambruk ke pelukannya, mendekapnya seperti aku mendekap nyawaku sendiri, menangis di dadanya lebih keras dari ketika aku pertama dilahirkan.

*

 

Moskow, musim semi 2007

 

Aku mengenakan gaun putih yang jatuh sampai ke mata kaki. Boris memakai jas dan dasi hitam. Mulanya aku tidak mau melakukan ini karena aku tahu aku pasti tampak konyol; menjadi pengantin di usiaku, dengan rambut yang sepenuhnya memutih dan tubuh renta, sama saja menjadi bahan lelucon. Tapi Boris sanggup meyakinkanku sehingga akhirnya aku luluh juga.

Ketika aku memandangi sosokku di cermin, aku bersiap untuk melihat pantulan perempuan keriput memaksakan diri memakai gaun pengantin. Tapi yang kulihat malah Anna di usia enam belas tahun, dengan rambut merahnya yang disanggul ke pinggir, mata biru cerianya dan bibirnya yang masih merah merekah. Aku tersenyum bahagia padanya, dan ia membalas senyumanku, cantik sekali.

Aku selalu ingin menikah di Red Square, di depan Katedral St. Basil. Boris mengabulkan keinginanku. Di tengah-tengah khalayak dan ramainya turis yang sibuk memotret di sana-sini, kami mengikat janji untuk selalu bersama dan tidak akan pernah terpisahkan, lagi.

Untuk kali ini aku yakin kami akan menepati janji kami.

**

 

— Epilog

 

Kumatikan alat perekamku sambil mengucap terima kasih kepada pasangan di hadapanku yang baru saja menyelesaikan cerita mereka yang luar biasa itu. Saat aku bangkit berdiri untuk pergi, aku mengawasi mereka sekali lagi, merasakan rasa haru yang mengembang di hatiku, ke dadaku, dan terus mendesak naik sampai ke tenggorokan.

Aku berjalan keluar dari rumah mereka yang mungil namun hangat dan kembali ke guyuran salju Moskow. Ada sesuatu yang harus aku lakukan sebelum pulang.

Aku menekan serangkaian nomor di ponselku.

“Hai,” ujarku, saat orang di seberang sana mengangkatnya. “Aku… pulang hari ini. Maafin aku ya? Aku janji nggak akan ngelewatin ulang tahun anak kita lagi demi kerjaan aku. Aku janji nggak akan ngebentak kamu lagi. Bilangin sama Toby, Papanya udah nyiapin kado kejutan buat dia. Tunggu aku di rumah ya, Ma. Aku pasti pulang buat kalian. I love you.”

Aku pun berjalan menuju airport dengan senyum mengembang.

 

***

end.

Catatan penulis:

Terinspirasi dari kisah Boris dan Anna Kozlov, pasangan asal Rusia yang terpisah selama 60 tahun lebih. Mereka menikah lagi di tahun 2007, di usia yang sudah sangat senja. Hingga kini mereka masih bersama dan tetap tidak terpisahkan.

borisanna

Sepertinya?

teddybear

Aku sepertinya kehilangan:

Suara bernyanyimu yang hanya berupa bisikan yang menenangkan. Tidak lirih, tidak lantang, tapi lembutnya memeluk inderaku dengan mulus, mengisi setiap ceruknya sampai penuh, dan terus masuk hingga menyelimuti hati. Tapi kini hati sedang menggigil. Hangatnya sudah menguap.

Aku perlu, nampaknya, untuk kamu nyanyikan lagi. Terus, sampai aku terlelap, dan lupa kamu sudah tidak di sini.

– 25 Desember 2013

Itu, Kekasihku

prayforpeacefuldreams

Kekasihku rambutnya hitam
Mengilat bagai cermin pekat
Katanya dia rajin keramas pakai minyak kemiri
Supaya indahnya bisa kunikmati lewat jemari

Kekasihku bibirnya merah
Merekah bak ranumnya buah
Setiap malam dia oleskan madu dan gincu
Agar ku leluasa mencumbunya semauku

Kekasihku wajahnya biru
Lebam di mata dan pipinya jadi ungu
Tempat tinjuku menghantam saat kupergokinya
Bergumul di ranjang dengan suami tetangga

Kekasihku kata-katanya palsu
Kuludahi dia saat para seragam itu datang menggiringku
Dengan pasung terpasang di pergelangan
Tak peduli air matanya terus berlinangan

– Bandung, 12 September 2014

Kita Untuk Sementara

Aku berjingkat tanpa suara untuk mengintip hatimu. Aku sangat memperhatikan langkahku agar tidak ada yang tahu.

Di sepanjang jalan banyak benda, yang bisa saja kusenggol secara tidak sengaja, mengancam akan menimbulkan suara bising yang bisa membangunkan dunia—dunia aku dan kamu, yang sebenarnya cuma aku yang pelihara. Aku yang pelihara, karena selama ini kamu belum yakin apa dunia tersebut ada atau hanya fragmen imajinasimu.

Ada kok, sebenarnya. Percaya deh.

Aku lho yang pastikan bahwa di dalamnya penduduknya sehat dan sejahtera, meskipun kadang ada saja yang membuat mereka putus asa dan ingin mengakhiri peradaban yang mereka bangun secara susah payah selama ini.

Kata-kataku tumpah ruah di dalam tapi tak sampai keluar. Hanya merembes sedikit, lalu makin sedikit, dan kamu semakin lama semakin tidak mempedulikan atap bocor di sudut kamarmu itu. Kamu mengabaikannya, menjadikan candaan. Padahal kalau kamu perhatikan, itu sebenarnya caraku untuk membuat kamu sadar: aku menginginkan kamu.

Kamu matikan lampu di hatimu bahkan sebelum aku tiba. Aku masih berharap melihat setidaknya sedikit cahaya saat aku memicingkan mata dari sela pintu. Kamu memejamkan mata dan aku tidak mau mengganggu damainya tidurmu, yang bebas dari keraguan yang mengepungmu di kala kamu terjaga. Aku paham di mimpi-mimpimu tidak ada aku; adanya dia, atau orang lain – siapa pun lah yang bukan aku. Di mimpiku, semuanya selalu kamu.

Kapan mimpi kita bisa resiprokratif, aku tidak tahu. Kapan hati kita bisa seperti itu, aku lebih tidak bisa membayangkan. Mungkin rasanya akan terlalu hebat. Atau mungkin malah biasa saja. Hidupku belum berjalan seperti yang kuinginkan sejauh ini, namun jika kita bisa menjadi sebuah kata yang aku dan kamu dapat ucapkan dengan bangga dan tulus, itu akan menjadi perwujudan nyata impianku. Kita. Kata itu sinonim kebahagiaan untukku, kalau di dalamnya terdiri dari aku dan kamu.

Semua ini kutiupkan ke dalam mimpimu malam ini, Kelam. Kamu Kelamku, yang tak bisa kutinggalkan. Kamu yang memproklamirkan diri sebagai tak lain hanya bayangan yang muncul untuk menaungi hanya saat kamu merasa ada yang membutuhkanmu, dan merajuk saat orang yang kamu harap membutuhkanmu tidak menggubrismu – dan aku, bayangan dari bayanganmu, jauh tanpa memijak tanah, teman dekatmu yang tidak di dekatmu dan tidak lebih dari itu buatmu.

Selamat malam, sampai kita bertemu lagi, sampai aku tersenyum, menunggu, berharap, sakit, senang, bahagia, berdoa, dan pasrah lagi. Sampai “kita”, meskipun sementara, bisa “ada”.

Sampai nanti.

– 28 Agustus 2013

Sungai di Langit

milky-way-galaxy-615

“Melayang itu sangat mudah ketika kamu sudah berada di antara bintang-bintang sejak awal.”

Gadis mengayunkan kedua kakinya yang terjuntai telanjang di atas ratusan kerlip kecil yang menyebar di kegelapan tak berkesudahan. Ia menghembuskan nafas – sempat mengukur berapa lama kira-kira tubuhnya butuhkan untuk mengambang hingga sampai ke planet terdekat, sebelum akhirnya benaknya mentok dan ia menyerah. Sepertinya akan lebih baik jika ia menyerahkan momentum pendaratannya kepada alam yang tentu lebih pintar dan lebih ahli dalam soal begini. Atau kalau tidak, nanti saja ia tanyakan ke Gangga. Dia biasanya tahu.

“Aku mau mengambil satu,” Gadis menengadah, telunjuknya mengarah ke binar bintang keunguan di sebelah kanan kakinya. “Bisa tidak ya?”

Gangga mengambil tempat di sebelah Gadis. “Yang itu?”

“Bukan, sebelahnya. Yang agak ungu,” Gadis menggeser jari Gangga hingga menunjuk ke tempat yang benar, tidak menyadari nafas Gangga yang sempat berhenti di detik kulitnya menyentuh kulit Gadis.

Gangga mengangguk, berusaha tidak menggubris kekecewaannya saat Gadis menarik tangannya kembali. “Bisa. Tapi sepertinya kamu akan agak lama sampai di sana.”

Gadis mengangkat bahu. “Tidak masalah. Aku punya banyak waktu.”

“Mau sekarang?” tanya Gangga. Gadis terlihat menimbang-nimbang.

“Besok saja. Sekarang aku lelah, mau tidur. Sudah hampir terang.”

Gadis mendongak. “Besok temani aku lagi ya?”

Anggukan Gangga mengembangkan senyum Gadis, yang serta merta menyandarkan tubuhnya di bahu pemuda itu. Gangga menarik hawa lembut tubuh Gadis, menyecap kehangatannya, menikmati keberadaannya selagi dia bisa.

“Selamat tidur Gadis,”

Gangga memejamkan mata saat hangat tubuh itu mulai sirna, wanginya mulai pergi, hingga yang tertinggal hanya lah pendar cahaya biru dari pangkuannya. Sinar itu perlahan melayang, terus naik ke atas, sebelum akhirnya lenyap sama sekali. Gangga hanya bisa menatap bundaran biru nun jauh di langit sana sambil berharap semoga Gadis sampai dengan selamat, hingga besok alam mengizinkan mereka untuk bertemu lagi. Dan Gangga akan punya satu kali kesempatan lagi untuk bersamanya.