[Transit]

Image: Empty billboards represent Greece's crisis

 

Papan penanda jalan melompat ke jendela, mengganggu

lintasan cahaya.

 

Bahasa menyalak, bising

ke mata.

 

Belum lama aku di sini. Belum cukup lama untuk dibilang

terlalu

lama, selamanya

 

orang asing.

 

23 Juni 2016, ketika baru saja melewati Tahaki Reserve, Mt Eden

Advertisements

Keluarga-Keluargaku

00007-willowtree-grandfather-with-2-children

Waktu itu, Bandung pernah berbisik kepadaku: Hey, aku yang membesarkan kamu.

Kemudian, Erfurt dan saudarinya yang mungil elok dan pendiam, yang kucintai, yang aku tak tahu namanya, dan ayahnya, Frankfurt, dan ibunya, Kassel, melambai kepadaku: Terima kasih sudah mengizinkan kami memelukmu.

Lelaki itu, namanya Jakarta, tangannya meremas rambutku, menarik kulit kepalaku: Kamu itu kutu.

Aotearoa datang kepadaku seperti selimut di hari hujan. Istirahatlah, dan selamat mimpi indah.

Kita Untuk Sementara

Aku berjingkat tanpa suara untuk mengintip hatimu. Aku sangat memperhatikan langkahku agar tidak ada yang tahu.

Di sepanjang jalan banyak benda, yang bisa saja kusenggol secara tidak sengaja, mengancam akan menimbulkan suara bising yang bisa membangunkan dunia—dunia aku dan kamu, yang sebenarnya cuma aku yang pelihara. Aku yang pelihara, karena selama ini kamu belum yakin apa dunia tersebut ada atau hanya fragmen imajinasimu.

Ada kok, sebenarnya. Percaya deh.

Aku lho yang pastikan bahwa di dalamnya penduduknya sehat dan sejahtera, meskipun kadang ada saja yang membuat mereka putus asa dan ingin mengakhiri peradaban yang mereka bangun secara susah payah selama ini.

Kata-kataku tumpah ruah di dalam tapi tak sampai keluar. Hanya merembes sedikit, lalu makin sedikit, dan kamu semakin lama semakin tidak mempedulikan atap bocor di sudut kamarmu itu. Kamu mengabaikannya, menjadikan candaan. Padahal kalau kamu perhatikan, itu sebenarnya caraku untuk membuat kamu sadar: aku menginginkan kamu.

Kamu matikan lampu di hatimu bahkan sebelum aku tiba. Aku masih berharap melihat setidaknya sedikit cahaya saat aku memicingkan mata dari sela pintu. Kamu memejamkan mata dan aku tidak mau mengganggu damainya tidurmu, yang bebas dari keraguan yang mengepungmu di kala kamu terjaga. Aku paham di mimpi-mimpimu tidak ada aku; adanya dia, atau orang lain – siapa pun lah yang bukan aku. Di mimpiku, semuanya selalu kamu.

Kapan mimpi kita bisa resiprokratif, aku tidak tahu. Kapan hati kita bisa seperti itu, aku lebih tidak bisa membayangkan. Mungkin rasanya akan terlalu hebat. Atau mungkin malah biasa saja. Hidupku belum berjalan seperti yang kuinginkan sejauh ini, namun jika kita bisa menjadi sebuah kata yang aku dan kamu dapat ucapkan dengan bangga dan tulus, itu akan menjadi perwujudan nyata impianku. Kita. Kata itu sinonim kebahagiaan untukku, kalau di dalamnya terdiri dari aku dan kamu.

Semua ini kutiupkan ke dalam mimpimu malam ini, Kelam. Kamu Kelamku, yang tak bisa kutinggalkan. Kamu yang memproklamirkan diri sebagai tak lain hanya bayangan yang muncul untuk menaungi hanya saat kamu merasa ada yang membutuhkanmu, dan merajuk saat orang yang kamu harap membutuhkanmu tidak menggubrismu – dan aku, bayangan dari bayanganmu, jauh tanpa memijak tanah, teman dekatmu yang tidak di dekatmu dan tidak lebih dari itu buatmu.

Selamat malam, sampai kita bertemu lagi, sampai aku tersenyum, menunggu, berharap, sakit, senang, bahagia, berdoa, dan pasrah lagi. Sampai “kita”, meskipun sementara, bisa “ada”.

Sampai nanti.

– 28 Agustus 2013

Cinta Sejati

Saya seharusnya menulis setiap hari.

Menulis itu seperti kekasih saya yang telah lama terlupakan; setia menunggu di sebuah sudut bersarang laba-laba yang selalu saya lewati tapi saya abaikan. Semacam tahu keberadaannya tapi tidak diindahkan. Saya pikir, toh dia akan selalu beada di sana. Meskipun jarang ditengok, dia akan selalu ada. Nggak akan kemana-mana.

Menulis itu cantik. Dan dia selalu membuat saya nyaman. Mungkin tidak selalu memberi damai – sering sih, tapi tidak selalu – tapi nyaman, iya. Parasnya berubah sesuai apa yang saya rasa. Tapi dia tidak pernah buruk di mata saya.

Menulis kadang membuat saya menangis karena sedih, geli karena bahagia, atau malah sebaliknya: geli karena sedih, menangis karena bahagia. 

Menulis selalu ada, tidak pernah memaksa saya untuk menengoknya, namun ketika saya mendekat dia akan mengangkat kepalanya penuh sukacita dan tersenyum, manis sekali, sampai saya tidak mau beranjak dari sana. Tapi kadang saat saya tidak tahu lagi kata apa yang bisa saya sampaikan padanya, saya pergi, meskipun sering lama saya pandangi dirinya dengan rasa hangat yang kuat dalam hati.

Menulis akan selalu ada untuk saya. Dia akan selalu cantik dan indah. Dan saya akan selamanya 

mengaguminya.

Saya ingin selalu bersamanya, jika saja kenyataan hidup tidak terlanjur menawan saya dalam selnya.

Menulis, sampai kapan pun, adalah cinta sejati saya.