Grammars are all over the place

Grammars are all over the place and words are repetitive, you said as you judged me with your perfect non-native accent and near-infinite vocabulary. Your tone was as scathing as ever, I don’t think it ever truly changed. You are the reason why I’m so scared to show myself into the world, or even to you, because you make me feel like I need to always be inferior to you.

You undermine people because you hate yourself too much to admit that you’re scared of people undermining you.

I wish to be free of you someday. I wish you don’t have to always be around everywhere I go. I wish you weren’t my reflection of everything I wish I could be and everything I’m glad I’m not. I wish you weren’t part of me that I can only repress but can never get rid of. And most of all, I wish I was stronger even with you within me.

 

https://penusa.org/sites/default/files/brokenmirror.jpg

Advertisements

A Meeting At A Hotel Lounge (feat. Blanchot and Cummings)

Monsieur Blanchot and Mr Cummings were waiting for me. M Blanchot was staring out of the hotel window at the lush and green garden and Mr Cummings was reading a magazine behind a puff of smoke. I apologised for my tardiness and took a seat in front of them. M Blanchot nodded, his suit seemed as stiff as his chin, but his smile was friendly. Mr Cummings flashed me a tiny smirk and flicked his cigarette. The corner of his eyes crinkled.

“I did have the naive plan of arguing with Aristotle, and Montaigne, regarding their conception of friendship. But why bother?” (Blanchot, “For Friendship”34)

I thanked them for having inspired me to write my theses. I explained to them how much I admired them. They gave no response, but they appeared to be listening. And after some silence Mr Cummings chuckled. M Blanchot cleared his throat.

Image result for e e cummings

“”Good” and “bad” are simple things. You bomb me = “bad.” I bomb you = “good.”” (“Foreword to an Exhibit: I”, 1944)

I politely asked them to begin their conversation together and requested that they pretend that I was not there. And they did just that. Because I was not really there anyway, and they did not see me.

I whipped out my notebook and I listened intently to everything that they were saying among themselves. They were not talking to each other. They were not even in the same room together, as was I. But still I listened, and still I paid attention.

M Blanchot had an angular smooth face with a soft but piercing eyes. He talked to me about his reading on Hegel that he often quoted in his writing. He talked to me about silence, space, author, literature, and death. He talked to me about his friendship with Dionys Mascolo. His admiration of camaraderie.

I looked at Mr Cummings, and for me he was oozing masculinity as much as he was reeking of tobacco. His voice was melodious and he might as well be a swing singer or a newscaster to some extent, maybe. He did not look bathed or washed, and he was probably in his 40s, but he has this irrefutable charm that made me could not stop staring and listening. I scribbled on my notebook, dividing my attention between the two. M Blanchot kept talking without pause, but Mr Cummings liked to light a fresh cigarette between each pause. Mr Cummings’ vocabulary was mesmerizing, like a labyrinth of mind game I would be willing to get myself lost in.

I could listen to them all day long, although sometimes I could not help my mind to wander. But the day was ending soon, and the sky was getting dark, so I packed up my notebook. I sometimes still wonder how these men can manage to inspire me this much. I thanked them. They were there and then they weren’t. But their words resounded inside my notebook and inside my head, and I carry them everywhere with me.

Lotus Blooms

Antithèse, by Victor Brauner (1937)

Antithèse, by Victor Brauner (1937)

Lotus, your name is written in the language of the stars. You painted the sky with the colour of your smile; it was blood red. I am breathing the ground suffocating in your aura,

the rainbow in the sand, the shorelines of the broken shells, bubblehead bubbling jaunting
gargling amazing sharp shreds jagged edge tangy scent copper tongue
escaping curls touching fingertips. I am so artificial, aren’t I?

“exquisite corpse”

Petal modelling—unrelenting, releasing, immigrating. Electricity when our gaze met.

Lotus, your name is written inside my wrist, I carved it yesterday, using shrapnel of our past.

-Auckland, 22 October 2015

Kita Untuk Sementara

Aku berjingkat tanpa suara untuk mengintip hatimu. Aku sangat memperhatikan langkahku agar tidak ada yang tahu.

Di sepanjang jalan banyak benda, yang bisa saja kusenggol secara tidak sengaja, mengancam akan menimbulkan suara bising yang bisa membangunkan dunia—dunia aku dan kamu, yang sebenarnya cuma aku yang pelihara. Aku yang pelihara, karena selama ini kamu belum yakin apa dunia tersebut ada atau hanya fragmen imajinasimu.

Ada kok, sebenarnya. Percaya deh.

Aku lho yang pastikan bahwa di dalamnya penduduknya sehat dan sejahtera, meskipun kadang ada saja yang membuat mereka putus asa dan ingin mengakhiri peradaban yang mereka bangun secara susah payah selama ini.

Kata-kataku tumpah ruah di dalam tapi tak sampai keluar. Hanya merembes sedikit, lalu makin sedikit, dan kamu semakin lama semakin tidak mempedulikan atap bocor di sudut kamarmu itu. Kamu mengabaikannya, menjadikan candaan. Padahal kalau kamu perhatikan, itu sebenarnya caraku untuk membuat kamu sadar: aku menginginkan kamu.

Kamu matikan lampu di hatimu bahkan sebelum aku tiba. Aku masih berharap melihat setidaknya sedikit cahaya saat aku memicingkan mata dari sela pintu. Kamu memejamkan mata dan aku tidak mau mengganggu damainya tidurmu, yang bebas dari keraguan yang mengepungmu di kala kamu terjaga. Aku paham di mimpi-mimpimu tidak ada aku; adanya dia, atau orang lain – siapa pun lah yang bukan aku. Di mimpiku, semuanya selalu kamu.

Kapan mimpi kita bisa resiprokratif, aku tidak tahu. Kapan hati kita bisa seperti itu, aku lebih tidak bisa membayangkan. Mungkin rasanya akan terlalu hebat. Atau mungkin malah biasa saja. Hidupku belum berjalan seperti yang kuinginkan sejauh ini, namun jika kita bisa menjadi sebuah kata yang aku dan kamu dapat ucapkan dengan bangga dan tulus, itu akan menjadi perwujudan nyata impianku. Kita. Kata itu sinonim kebahagiaan untukku, kalau di dalamnya terdiri dari aku dan kamu.

Semua ini kutiupkan ke dalam mimpimu malam ini, Kelam. Kamu Kelamku, yang tak bisa kutinggalkan. Kamu yang memproklamirkan diri sebagai tak lain hanya bayangan yang muncul untuk menaungi hanya saat kamu merasa ada yang membutuhkanmu, dan merajuk saat orang yang kamu harap membutuhkanmu tidak menggubrismu – dan aku, bayangan dari bayanganmu, jauh tanpa memijak tanah, teman dekatmu yang tidak di dekatmu dan tidak lebih dari itu buatmu.

Selamat malam, sampai kita bertemu lagi, sampai aku tersenyum, menunggu, berharap, sakit, senang, bahagia, berdoa, dan pasrah lagi. Sampai “kita”, meskipun sementara, bisa “ada”.

Sampai nanti.

– 28 Agustus 2013

Cinta Sejati

Saya seharusnya menulis setiap hari.

Menulis itu seperti kekasih saya yang telah lama terlupakan; setia menunggu di sebuah sudut bersarang laba-laba yang selalu saya lewati tapi saya abaikan. Semacam tahu keberadaannya tapi tidak diindahkan. Saya pikir, toh dia akan selalu beada di sana. Meskipun jarang ditengok, dia akan selalu ada. Nggak akan kemana-mana.

Menulis itu cantik. Dan dia selalu membuat saya nyaman. Mungkin tidak selalu memberi damai – sering sih, tapi tidak selalu – tapi nyaman, iya. Parasnya berubah sesuai apa yang saya rasa. Tapi dia tidak pernah buruk di mata saya.

Menulis kadang membuat saya menangis karena sedih, geli karena bahagia, atau malah sebaliknya: geli karena sedih, menangis karena bahagia. 

Menulis selalu ada, tidak pernah memaksa saya untuk menengoknya, namun ketika saya mendekat dia akan mengangkat kepalanya penuh sukacita dan tersenyum, manis sekali, sampai saya tidak mau beranjak dari sana. Tapi kadang saat saya tidak tahu lagi kata apa yang bisa saya sampaikan padanya, saya pergi, meskipun sering lama saya pandangi dirinya dengan rasa hangat yang kuat dalam hati.

Menulis akan selalu ada untuk saya. Dia akan selalu cantik dan indah. Dan saya akan selamanya 

mengaguminya.

Saya ingin selalu bersamanya, jika saja kenyataan hidup tidak terlanjur menawan saya dalam selnya.

Menulis, sampai kapan pun, adalah cinta sejati saya.